Tampilkan postingan dengan label poetry. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poetry. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Mei 2013

Pilih(an)


Jika sastra adalah jalan akhir untuk mengungkap kebiadaban, ketiadakadilan dan keserakahan, tak apalah. Jadikan ia senjata pamungkas. Saat tangan terbelenggu oleh bakti pada manusia yang membuat ada. Ketika mulut dibungkam birokrasi yang menjengahkan. Kala orang-orang tak menghiraukan siulan dan teriakan. Percaya ia akan dibaca dan menjadi secuil bongkah kehidupan negeri raya ini.

Jika rasa iba adalah satu-satunya media mengoyak kebohongan, kemunafikan dan kecurangan, apa boleh buat. Jadikan ia perisai hati yang membentengi dari kenikmatan benda-benda yang kelak mewujud gunungan artefak setelah ketiadaan. Membelalakkan mata mempertajam bagi pembeda antara hitam, abu-abu dan putih. Mengarahkan batin pada manusia-manusia yang terasingkan.

Jika segala upaya tak lagi memungkinkan, tak lagi bisa digerakkan. Bukan berarti tak ada pilihan. Selagi ada pilihan, tersulit, terhimpit sekalipun. Makhluk kecil tentu masih diberi waktu memilih di akhir denyutnya.

2013

Senin, 13 Mei 2013

Dewa Guru

Siswa tak naik kelas, salah guru
Siswa nakal, salah guru
Siswa tak lulus, salah guru
Siswa tak beretika, salah guru

Ujian Nasional bobrok, salah guru
Standar rendah, salah guru
Kurikulum tak jalan, salah guru
Sekolah bobrok, salah guru
 
Dikasih duit kurang, mulut berkoar
Dikasih duit lebih, jadi royal
Lagi-lagi salah guru

Jumat, 07 Desember 2012

Jualan Karbon

Ribut-ribut masalah pemanasan global yang bisa bikin kiamat. Dedengkot negara penggede yang punya perusahaan gede pun berduyun-duyun dikusi dan lobi-lobi. Diskusiin bagaimana solusi terpaten untuk mencegah kiamat , lalu melobi negara-negara yang masih punya banyak daun di tanah mereka. Nah, rata-rata pemilik banyak daun itu adalah negara yang baru merayap, yang tak banyak kepulan asap karbon.

Ikan asin di depan mata kucing, kiamat diatasin dengan tak ambil pusing.

Senin, 08 Oktober 2012

Pembunuh Sepi


Mengendap sepi merasuki nadi
menjalar menuju titik tiada henti
merayapkan sunyi pada pangkal hati
meniduri rindu yang hadir tanpa permisi
memanggil-manggil hampa tanpa arti

Nyinyir sepi merentas galau di ujung hari

Sepi menghujamkan pilu tanpa ragu
merobek selaput beku dengan perisai sembilu
tak ada maaf bagi masa lalu, yang
merengkuh gelora dalam kalbu
memecah asa kemudian berlalu

Lantas waktu pun tergugu,
meratapi sepi yang kian membisu.

2009

NB: Puisi ini tercipta saat kehidupanku merasa sangat sepi, belum punya anak, jauh dari saudara, sahabat dan tak memiliki komunitas yang benar-benar mempresentasikan kegelisahan jiwa, serta berpindah dari satu kota ke kota berikutnya. Dunia yang kumiliki hanya kenangan-kenangan indah yang kujadikan pelipur lara.

Sabtu, 08 September 2012

KUBU


Kalian sering menyebut kami: Kubu. Ingatkah? Dalam setiap kata-kata pembuka selalu terucap: “…. yang telah membawa kita dari alam kegelapan ke alam yang terang benderang.” Bukankah kita sama-sama kubu pada awalnya?

Alam kami memang gelap. Mata kami tak bisa membaca dan tangan kami tak bisa menulis, namun kami mampu menjaga rumah kami dengan baik tanpa merusaknya. Tidak seperti kalian yang mulai menumbangkan pohon-pohon yang rimbun serta mengusir binatang-binatang yang tambun.

Seandainya kalian mau mengingat perjanjian nenek moyang kita, mungkin rumah kami tak habis terbakar. Kami bisa hidup mewah layaknya kalian yang ada di luar sana. Sebagian kalian mengkhianti perjanjian itu. Menganggap kami kubu, yang mudah sekali ditipu.

Jika rumah kami kalian habiskan, bukankah rumah kalian juga akan terancam musnah? Nafsu menguasai rumahku akan menjadi tombak yang bisa merobek tubuh. Mungkin kalian sadari itu, namun hasrat itu telah membutakan. Suatu saat rumah kami, lalu rumah kalian akan hancur karena keserakahan. Siapa sebenarnya yang pantas disebut kubu?

Muara Bulian, 5 September 2012

Minggu, 22 Juli 2012

Prajnaparamita

:: Kesempurnaan di Muara Jambi

Penggalan kepala yang hilang tak lagi bisa ditemukan seperti sediakala sebagaimana kesempurnaan padmasana dan dharmacakramudra memutar roda-roda kehidupan yang tiada ujung hingga abad berganti tahun melampaui masa manusia-manusia berganti rupa berupaya menghilangkan jejak-jejak leluhurnya dengan sebilah besi raksasa bak menggilas waktu dengan gulungan angin dan air sertamerta tanah menimbun tanpa ampun.

Jelmaan bodhisatvadevi tak sempurna di alam nyata muncul dalam timbunan tanah negeri seribu candi yang dahulu pernah menjadi pijakan sebuah persahabatan bersejarah atas abad sebelum lahirnya palapa sebutan pamalayu menghubungkan dua wujud kesempurnaan kebijakan mahakarya tiada tara svarnadwipa.

Tara yang tiada tara inspirasi barat sama nyata dengan paramita pujaan timur yang setia memberi bukti keajaiban langit pada bumi penuh kebijakan transendental pada hamparan ketenangan meneduhkan damai abadi dalam kontras bingarnya busana berbalut embrio batik tanpa gelung mustika jatamakuta yang rupawan serupa paramita javadvipa.

Muara Bulian, 21 Juli 2012

Senin, 04 Juni 2012

DWARAPALA

1/ Pembuka tabir misteri. Menembus waktu. Nampaklah di depan matanya, rumah suci tergerus oleh besi usang. Ia tercengang. Apa gerangan? Ini waktu yang tak aku kehendaki. Ia ingin kembali bersemedi di bawah pohon bodhi. Menyucikan alam pikiran. Ia tetap sebagai penjaga pintu.

2/ Dwarapala terpejam di alam pikirannya. Ia menyusuri setapak rumah Teluk yang di alam kemudian tergerus oleh besi. Bertelanjang kaki. Membasuh ujung kaki dengan air yang mirip dengan sungai di negeri suci asal kepercayaannya. Sesaji ia layarkan dari tepian hingga pelan-pelan meninggalkannya. Lalu ia mengayuh sampan menyeberang sungai suci menuju kanal-kanal penghubung rumah-rumah suci. Sepanjang jalan ia memunguti batu-batu putih sebagai tanda bahwa ia telah banyak berucap doa sebanyak batu yang terkumpulkan. Sampan berhenti di rumah suci Koto Mahligai. Ia menyerahkan batu-batu itu pada guru yang telah menunggunya. Lalu ia menuju ke Barat, tempat tersuci dari yang paling suci.

3/ Matanya terbelalak. Ia kembali melihat besi besar dan segunung tanah hitam. Lalu ia berkata: Aku tak mau melihat lagi. Mataku akan terpejam selamanya hingga benda-benda menyeramkan itu berhenti menghantuiku. Dwarapala buta selamanya dan hidup dalam keabadiaan. Dalam kebangkitannya pun serupa wajah yang menyeramkan. Murka dengan manusia-manusia durjana. Dwarapala akan hidup dalam keabadian di ruang kegelapan.

Jambi-Muara Bulian, 4 Juni 2012

Sabtu, 02 Juli 2011

Anak Kereta


Ugh…ugh…ugh..ugh! Bunyi suara dari mulut si bisu.
Anak Kereta

Suara yang tercekat itu meyakinkan isyarat tubuhnya,
meragakan satu suapan: 
untuk makan.

Jumat, 01 Juli 2011

Cinta Yang Tak Bisa Dimengerti

:untuk mamak dan bapak

IBU. 
Mengapa sekarang aku lebih banyak menangis untukmu? 
Untuk cintamu yang tak pernah kumengerti. 

Engkau selalu korbankan rengekanku demi orang yang kusebut ayah. Kehangatanmu seolah tak terasa di tubuhku sewaktu aku membutuhkan sosokmu. Kenakalan yang kuberbuat engkau bayar dengan gelegar suara ayah dan tangis yang tak pernah kumengerti. Aku tak sanggup seperti engkau, IBU. Aku tak sanggup menerima makian, hujatan dan tamparan dari seorang lelaki yang akan menemani aku di lebih dari separuh kehidupanku.

Rabu, 22 Juni 2011

Gang Pudak

:mengenang hari-hari di Gang Pudak
 
1
Satu kakak, satu adik. Satu pria, satu wanita. Umur tak jauh beda. Wajah hampir serupa dengan ibu yang sama. Namun, tak tahu bapak mereka yang mana. Hanya perempuan yang menggelayutkan tubuh keduanyalah  yang tahu siapa bapak mereka. Bapak yang menjadikan keduanya serupa tapi tak sama.

Senin, 01 Desember 2008

Kisah Sebuah Jalan

Berkawan dengan lubang,
Lumpur hitam, batu, aliran sungai dan rimba
Menghiasi tapak dua roda
Melintasi tiap ruas jalan Muarabulian-Dusun Tuo
Lalu meneguk jernihnya Air Siau
Melepas dahaga serta kengerian di ujung malam
Tuk kembali pulang
Sekumpulan bajing loncat siap menyergap
di akhir perjalanan

Selasa, 01 Juli 2008

Asa dalam Do'a

Lima belas tahun lagi
Aku tak ingin melihat dirimu
bersanding denganku

Aku ingin melihat kau
bersanding dengan kekasih sejatimu

Lima belas tahun lagi
Kita adalah sahabat...

-jawaban dari seribu pertanyaan-

Selasa, 20 Mei 2008

Labirin Nasib

Lingkaran macam apa ini!
Tak ada batas antara kemenangan dan kekalahan
Hancur seketika
Tak ada tawa
Tak ada canda
Semua muram
Tampakkan wajah kelam
Segalanya terjadi tanpa permisi
Tanpa berucap perpisahan
Secara tiba-tiba bumi mengeluarkan boroknya
Inikah permainan nasib?
Sekejap mata memandang, semua jadi abu
Tinggal menunggu giliran tertiup angin...

-malam terakhir dalam kebersamaan-

Selasa, 06 Mei 2008

Peri Cantik Untukmu

Kukirim tiga peri cantik untukmu...
Lewat dunia maya yang mempersatukan kita

Satu peri menggelantung di pelupuk matamu
Satu peri menggelayut mesra di pundakmu
Dan... satu peri yang senantiasa di taman hatimu

Tiga peri itu yang akan menemani
siang-malammu merangkai berjuta-juta kata
untukku...
Akankah kau mengirim peri gagah untukku?

-satu waktu dalam sendiriku-

Senin, 28 April 2008

Sepenggal Kematian

Chairil....
Ku memujamu layaknya ku memuja bait-baitmu
Kau si 'Penjahat Kelamin' yang teramat kukagumi
Kau dan aku hanya dipertemukan lewat warisan 'Binatang Jalang'-mu
Medio yang telah menyihir para penggila sastra
Kau mati untuk mengabadikan karya
Kau mati untuk dikenang...

-suatu pagi dikala mengenangmu-

Sabtu, 26 April 2008

Aku dan Sahabat

Kepada: Sahabat...

Itu bukan kuasaku
Diriku yang penuh teka-teki
Terhimpit karena rasa yang ada

Itu di luar kuasaku
Memporandakan puzle-puzle cinta yang mulai tersusun
Karena satu kata terucap dari mulut berbisa ini

Itu jauh dari kuasaku
Menolak menjadi pendengar kisahmu
tentang Mataharimu...
dan menjauh darimu

Inilah kuasaku
aku ingin...
tawa lepas itu kembali
memeluk kita...

-tercipta di atas penyesalan yang mendera-

Jumat, 25 April 2008

Malam yang Galau

malam yang galau...
saat bulan kisahkan tentang bintang
bulan merindu dan langit cemburu
akankah bulan berpaling pada langitnya?

-catatan sebelum terlelap-

Rabu, 05 Maret 2008

Si 'Pacarkecilku' hingga Si 'Sastrawan Moeda'

Pacarkecilku bangun di subuh hari ketika azan datang membangunkan mimpi.
Pacarkecilku berlari ke halaman/ menadah hujan dengan botol mainan/menyimpannya di kulkas sepanjang hari/dan malamnya ia lihat di botol itu gumpalan cahaya warna-warni.
Pacarkecilku lelap tidurnya/botol pelangi dalam dekapku.
Ketika bangun ia berkata/"Tadi kau ke mana? Aku mencarimu di rerimbun taman bunga."/Aku terdiam/Sepanjang malam aku hanya berjaga di samping tidurnya agar dapat melihat bagaimana azan pelan-pelan membuka matanya.
Pacarkecilku tak akan mengerti: pelangi dalam botol cintanya bakal berganti menjadi kuntum-kuntum mawar-melati yang akan ia taburkan di atas jasadku nanti.

Jumat, 29 Februari 2008

rindu untuk ibu

jangan menangis ibu...
meski anakmu hanya semalam melihatmu
kutahu kau rindu
akan canda tawa anakmu ini
yang sedikit menghiburmu
kutahu kau ingin bercerita
meski hanya lewat mata
tekanan lelaki itu
begitu besar padamu
tak banyak kuberbuat
untukmu...
ku ingin kau tersenyum
dan memeluku
tuk rebahkan galau dihatimu
aku rindu padamu ibu...
teramat rindu...

Minggu, 03 Februari 2008

senandung malam

Kuraba hati, namun tak kutemui yang kucari
aku mengantuk, tapi mata ini tak mau terpejam
aku mau kau menemani
menikmati saat-saat kegalauan ini

kau ada tapi tak dapat kuraba
aku ingin dirimu...
membelai malam yang panjang ini
menyisir setiap helai kabut di hati

ada bayangmu di sini
aku ingin dirinya...
aku tak kuasa meraihnya

biarlah aku bercinta dengan malamku
bercumbu bersama senandung yang menyambut surya