Sabtu, 08 September 2012

KUBU


Kalian sering menyebut kami: Kubu. Ingatkah? Dalam setiap kata-kata pembuka selalu terucap: “…. yang telah membawa kita dari alam kegelapan ke alam yang terang benderang.” Bukankah kita sama-sama kubu pada awalnya?

Alam kami memang gelap. Mata kami tak bisa membaca dan tangan kami tak bisa menulis, namun kami mampu menjaga rumah kami dengan baik tanpa merusaknya. Tidak seperti kalian yang mulai menumbangkan pohon-pohon yang rimbun serta mengusir binatang-binatang yang tambun.

Seandainya kalian mau mengingat perjanjian nenek moyang kita, mungkin rumah kami tak habis terbakar. Kami bisa hidup mewah layaknya kalian yang ada di luar sana. Sebagian kalian mengkhianti perjanjian itu. Menganggap kami kubu, yang mudah sekali ditipu.

Jika rumah kami kalian habiskan, bukankah rumah kalian juga akan terancam musnah? Nafsu menguasai rumahku akan menjadi tombak yang bisa merobek tubuh. Mungkin kalian sadari itu, namun hasrat itu telah membutakan. Suatu saat rumah kami, lalu rumah kalian akan hancur karena keserakahan. Siapa sebenarnya yang pantas disebut kubu?

Muara Bulian, 5 September 2012

Tidak ada komentar: