Tampilkan postingan dengan label Kisahku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisahku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Juni 2013

Kata-Kata Perandaian

Aku manusia yang penuh dosa. Makhluk yang tersesat. Tahu cara kembali namun tak juga beranjak pergi dari kegelapan yang menyelimuti.
Kesedihan ini sangat menyiksa. Tak ada manusia tepat yang bisa mendengarkanku. Pada siapa lagi aku harus bercerita, untuk lapangkan penat di dada.
Semua terasa tak adil. Bukan, bukannya aku menyalahkan Tuhan. Tuhan sudah sangat baik padaku dengan hembusan nafas ini. Tapi aku tak tahu siapa yang harus kupersalahkan. Diriku? Tak kuasa aku menyalahkan diriku sendiri yang malang ini, apalagi manusia lain. Menyalahkan takdir? Sama saja aku menyalahkan Tuhan. Artinya aku tak boleh menyalahkan siapapun.
Seandainya aku bisa berkomunikasi dengan Tuhan layaknya aku berkomunakasi dengan manusia, aku akan menangis, bercerita dan meminta-Nya memelukku. Sayangnya, komunikasi itu hanya banyangan saja, bukan sesuatu yang nyata.
Ketika manusia menciptakan media untuk mengungkapkan rasa yang ada, sebagian manusia tak menyukainya. Dituduhnya aku menyebarkan aibku sendiri, padahal mereka tidak tahu persis apa yang sedang terjadi pada diriku. Jika mulut manusia bisa dibungkam dalam persoalan sepele seperti itu, mungkin aku tak akan seterpuruk ini. Telingaku tak mungkin kutulikan, dan mataku tak mungkin kubutakan. Aku pasti mendengarkan dan membaca kritikan manusia lain. Aku kasihan pada diriku dan manusia-manusia lain yang bernasib sepertiku, yang tak memiliki seseorang yang mau mendengarkan, menemani dan memeluknya di titik terendahnya. 
Akhirnya, ia pun hanya bisa dengarkan lagu-lagu kesedihan sembari tuliskan kata-kata perandaian.

Rabu, 26 September 2012

Buku Harian

"Benih menulis lahir di antara goresan-goresan Buku Harian."
Kegiatan yang terkadang menjadi kebiasaan buruk tetapi paling menarik ialah mencuri baca buku harian. Pencurian pertamaku ada pada buku harian mbakku. Ia hobi menulis buku harian dan itu sangat menginspirasiku. Terkadang, buku harian berisi curahan hati yang tulus diungkapkan oleh seseorang mengenai kehidupannya yang tak ingin diketahui oleh siapapun, namun acapkali buku harian juga dijadikan catatan kebohongan untuk mengambil simpati atau hanya untuk alarm hidup supaya mengingatkan kembali ketika memori otak tak dapat memutar kembali kenangan-kenangan yang mungkin sudah dan akan terlupakan.

Senin, 13 Agustus 2012

Lebaran tanpa 'Amplop'

Cerita ini dimulai sebelum sepeninggalan kawan yang terlepas ruhnya pada Sabtu lalu. Memang, sebelum kejadian itu aku sudah berencana menulis tentang kisah ini. Kisah tentang 'amplop' yang tak lagi kami terima seperti tiga lebaran yang lalu. Hanya saja kematian seorang kawan sekilas memunculkan pikiran bahwa harta-harta yang diperoleh dengan cara-cara yang tak sewajarnya hanya akan membuat celaka saja. Mungkin bukan tubuh kita yang celaka, melainkan keluarga, mulai dari istri hingga anak. Permasalahan bagaimana mencari harta adalah pilihan masing-masing idividu.

Jumat, 27 Juli 2012

Yulia yang Mulia

:: sebuah obituari

Saat itu, aku melihatnya diantar oleh seorang lelaki -entah bapak atau pamannya- ke sekolah menengah di Jalan Cinta No. 08, Karangsari, Kebumen. Penampilannya yang tak biasa menarik pandanganku untuk terus menatapnya. Baju putih biru yang dikenakannya tak seperti pada umumnya. Ia melipat lengan baju satu atau dua lipatan hingga memperlihatkan putihnya lengan atas miliknya. Ya, itu potret awal tentang remaja putri lulusan sekolah menengah pertama Jakarta.

Wajahnya mulus tanpa jerawat. Rambut bergelombang dan tak terlalu tebal. Hidung pesek dengan gigi tak rapi, tapi bodi langsing dengan kaki yang indah. Bagian tubuhnya yang paling aku suka adalah kaki jenjangnya yang mulus. Sifatnya ceria, ramah dan baik hati. Matanya yang berbinar menyiratkan kecerdasan otaknya. Ya, itu tentang jasmani dan rohani seorang gadis yang baru datang dari kota metropolitan ke kota kecil di selatan Jawa.

Gerak tubuhnya mengarah kepada beberapa arah yang berbeda, teman-teman gaul, pintar dan pendiam. Ia berkawan dengan sesamanya dalam satu kelas maupun lain kelas, tak melihat siapa si teman, ia tak pilih-pilih. Ia mampu berbaur dengan kesupelannya. Ya, itu tentang pergaulannya.

Seseorang yang memiliki prestasi dan pintar bergaul tak membuatnya sombong. Ia tetap menghampiriku sebagai seorang teman. Aku ingat, dahulu sifatku begitu pendiam dan minder dengan ketidakmampuan keluarga secara ekonomi. Ia tak pedulikan itu. Kami menjadi dekat karena satu perjalanan bersepeda setiap pulang sekolah di kelas 1. Ketika orangtuanya mengganti sepedanya dengan sepeda motor, ia sering menyambangiku bahkan mengulurkan tangannya untuk menyeretku supaya roda sepedaku melaju kencang. Adegan berbahaya yang menyenangkan. Sewaktu aku sering pergi kursus bahasa Inggris sendirian di Karanganyar, ia merasa tak enak denganku, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia terlalu baik hati jadi susah menolak permintaan seorang teman belajar kami. Saat aku meminjam motornya dan tak sengajar menabrak batas jalan, ia tak marah padaku. Dua hal yang kutakutkan saat kejadian yang sebenarnya bukan salahku itu terjadi: ia marah padaku dan kena marah bapakku. Aku menangis sesenggukan di depan bapakku hingga ia tak tega untuk memarahiku dan mau mengganti kerusakan. Saat uang yang diberi bapakku tak bisa menuntaskan kerusakan motornya, bahkan aku sempat berhutang yang entah sudah terbayar atau belum, itu tak merenggangkan persahabatan kami. Ya, itu tentang kenangan-kenangan yang tak kan pernah kulupakan seumur hidupku tentang kebaikan seorang perempuan yang diakhir masanya memutuskan mengenakan jilbab.

Yulia Indrawati. Teman yang selalu kujadikan sebagai sahabat sejati hingga saat ini, karena kemuliaan hatinya. Ruhnya telah berpisah dari raganya pada 25 Januari 2011 dan tepat di hari ini ia berulang tahun ke-29. Selamat Ulang Tahun sobat, semoga engkau tenang di alam sana. Aku merindukanmu.

Jumat, 30 Maret 2012

Kegalauan di Awal Tahun (Trend 2012)

 Aku Galau... Ketularan iklan salah satu seluler dengan warna andalannya: MERAH. Entahlah, apa lagi ikutan trend alay GALAU atau memang galau beneran, perasaan ya sering galau. Awal tahun ini beban tahun sebelumnya sirna sudah. Pertengahan hingga akhir tahun 2011 adalah puncak dari rentetan permasalahan keluarga yang sangat menguras tenaga. Aku sampai terkapar gara-gara maag-ku kambuh setelah empat tahun. Awal tahun 2012 ini sisa-sisa permasalahan masih ada, namun sudah banyak berkurang. Ya, masih ada sedikit batu kerikil yang sempat membuat krisis ekonomi melanda keluarga kecilku.

Jumat, 06 Januari 2012

Anjing Menggonggong, Kafilah tetap Menulis

Menjengkelkan sekali. Maksud baik diputarbalikkan jadi maksud jahat. Ndeso! Pola pikir yang picik, penuh dengan kedengkian. Belum tahu mereka kalau aku suka berkoar-koar di media internet ini. Apa kata mereka kalau baca blogku ini. Tak cuma dituduh buka aib saja tetapi MAKAR, hahaha....
Astaghfirullahal'adzim... Ini pelajaran yang sagat berharga. Gara-gara tulisanku di rubrik 'cerpen guru' majalah STORY, guru-guru di tempatku kerja hebohnya setengah mati. Aku dibilangnya membuka aib sekolah. Ya, salahku sendiri tak berpikir panjang akibatnya. Menyerahkan dua majalah kepada dua muridku rupanya bukan tindakan yang tepat. Meski begitu, aku pantang mundur dari MENULIS. Biarkan mereka menggonggong kafilah tetap menulis, hehehe...

Selasa, 02 Agustus 2011

Camar Penuh Kenangan

Tak terasa sudah tiga tahun menjadi pelanggan setia Hotel Camar. Ya, sejak aku menginjakkan kaki di Jambi, hotel pertama yang kusinggahi adalah Camar. Saat itu aku diantar oleh mantan pacarku yang dua bulan berikutnya menjadi calon suamiku. Mutar-mutar cari hotel di sekitar Thehok yang lokasinya dekat dengan kantornya (Jambi Independent). Di satu ruas jalan sekitar Thehok hingga simpang dekat Matahari Mall berbagai jenis hotel dari yang elit hingga remang-remang berderet di antara ruko-ruko dan kantor-kantor. Kami menentukan pilihan pada Camar karena harga standar (150-200-an ribu). Tak banyak persyaratan, seperti harus membawa surat nikah dan lainnya, hanya menunjukkan KTP dan langsung dipersilahkan check-in.

Minggu, 24 Juli 2011

Cukup Tiga Tahun Tiga Bulan Saja

Tiga tahun tiga bulan aku meninggalkannya. Seorang mantan kekasih yang dulu sangat aku cintai. Semua tahu, terutama dari pihaknya, akulah biang keroknya. Akulah yang telah meninggalkannya. Tak ada penjelasan dan memang aku tak mau menjelaskan. Semuanya terlalu cepat dan tak terduga. Tak ada rencana untuk meninggalkannya.

Selasa, 19 Juli 2011

Lelaki Seribu Cerita

:untuk suamiku, Herma Yulis

Bangunlah suamiku, malam ini giliranku bercerita. Kali ini aku tak memintamu melantunkan cerita untukku. Kali ini, engkau kuberi cuti. Ya, biasanya bibirmu terpaksa mengurai cerita demi menidurkanku. Suka atau tidak, engkau sering terjaga karena aku selalu sakau mendengar setiap helai cerita dari bibir yang tak pernah memarahiku.