Selasa, 29 Mei 2012

‘Cik Dang’ dalam Prasasti Batu Larung Situs Dusun Tuo


Tak pernah terbersit dalam benak saya bahwa suatu saat saya akan mengunjungi sebuah prasasti bernama Batu Larung. Nama sebuah prasasti yang tak asing lagi di telinga. Beberapa buku sejarah pernah menyebutkan nama prasasti itu dan memberi sedikit penjelasan mengenai peninggalan bersejarah itu. Apakah Anda juga tak asing lagi dengan nama prasasti itu?

Ada beberapa jenis prasasti Batu Larung yang dapat ditemui di beberapa wilayah yang ada di Jambi. Prasasti Batu Larung merupakan peninggalan megalitik yang hanya dapat ditemui di wilayah Jambi, tepatnya di Kabupaten Kerinci dan Merangin.

Prasasti Batu Larung yang saya kunjungi terletak di Dusun Tuo, Kecamatan Lembah Masurai, Kabupaten Merangin, Jambi. Prasasti itu tergeletak di sebuah wilayah yang tak pernah terbayangkan jauhnya. Perlu menempuh perjalanan sekitar delapan jam dengan menggunakan kendaraan bermotor dari Kota Jambi.

Bukan perjalanan yang mudah untuk menjangkau sebuah prasasti yang telah berumur ratusan tahun itu. Enam jam perjalanan awal masih bisa melewati jalanan aspal yang lumayan mulus. Memasuki dua jam perjalanan terakhir, aspal tak lagi dapat ditemui di setiap jalan yang membentang hingga memasuki Dusun Tuo. Bahkan sekitar 600 meter jalan masuk menuju tempat prasasti Batu Larung berdiri tak dapat ditemui jalan beralaskan aspal, melainkan tanah yang setiap saat menjadi becek ketika terkena air hujan.

Batu Larung di situs Dusun Tuo.
Batu Larung Situs Dusun Tuo berbentuk silinder dengan diameter bidang salah satu ujung lebih besar daripada diameter bidang ujung lainnya serta tidak lebih daripada seperdelapan bagiannya dipangkas sejajar sumbu panjangnya, sehingga membentuk bidang datar empat persegi panjang yang merupakan bagian dasar megalit. Bidang-bidang datar di kedua ujung diberi pahatan relief timbul. Pada bidang datar ujung besar dipahat bentuk kepala manusia hingga leher yang berada dalam sebuah lingkaran. Garis mata, hidung dan mulut tampak kurang jelas, mungkin karena aus. Pada bagian leher terdapat garis bulat. 

Pada bidang ujung kecil terdapat pahatan figur manusia berupa kepala dan lengan tangan serta di bawahnya satu bundaran dengan dua bundaran lain yang konsentris di dalamnya. Pada badan megalit sisi kiri, atas dan kanan dipahat juga relief timbul. Relief kiri dan kanan badan silinder berbentuk sama, yaitu lima buah deretan bundaran yang dalam setiap bundaran terdapat dua bundaran lainnya secara konsentris. Antar-bundaran terdapat relief timbul berbentuk tetesan air. 

Pada badan silinder atas dipahat bentuk enam manusia kangkang yang digambarkan bersambungan seolah-olah yang satu menyangga yang lain. Pada bagian tengah badan atas terdapat sebuah kotak bujursangkar dan lebih ke dalam berbentuk bulat yang diapit kedua kaki dari dua figur manusia kangkang. Ukuran megalit Batu Larung Situs Dusun Tuo: panjang 345 cm, lebar ujung besar 94 cm, lebar ujung kecil 60 cm, tinggi ujung besar 88 cm, tinggi ujung kecil 82 cm. Lubang bujursangkar berukuran 32 cm, lubang bulat berdiameter 20 cm, kedalaman kotak 12 cm.

Gambaran tentang Batu Larung situs dusun Tuo tersebut saya kutip dari laporan hasil penelitian yang dilakukan oleh Tri Marhaeni S. Budisantosa yang berjudul “Aspek-Aspek Kehidupan Tradisi Megalitik Dataran Tinggi Jambi.” Alasan pengambilan kutipan itu lebih dikarenakan saya tak lagi bisa menggambarkan secara detail setelah saya melihat prasasti itu. Bahkan yang terlihat dalam pikiran saya ketika pertama kali melihat prasasti itu: sebuah batu usang.

Rumah yang mengatapi Batu Larung baru didirikan sekitar akhir tahun 2008.
Kondisi prasasti Batu Larung situs Dusun Tuo yang digambarkan oleh Marhaeni S. Budisantosa sekitar empat tahun yang lalu jauh berbeda dengan kondisi saat saya mengunjunginya (2009). Relief-relief yang terukir di Batu Larung situs Dusun Tuo tak lagi terlihat jelas, mungkin karena aus dan tak terawat. Informasi terakhir dari salah satu warga Dusun Tuo, prasasti tersebut baru diberi rumah beratap dengan dinding terbuka sekitar akhir tahun 2008.  Pantas saja jika kondisi prasasti itu tak lagi seperti saat pertama kali ditemukan, setidaknya seluruh reliefnya masih nampak jelas oleh pandangan mata.

Pandangan mata kita masih bisa melihat relief yang tergambar di sana dan dengan sedikit meraba pada beberapa sisi prasasti tersebut masih terasa di tangan guratan-guratan relief seperti yang digambarkan oleh Marhaeni S. Budisantosa.

Misalnya, lima buah deretan bundaran di kedua sisi kanan dan kiri megalit itu masih nampak jelas. Namun relief tetesan air yang terletak di sela-sela antar-bundaran tak lagi terlihat, bahkan ketika diraba oleh tangan, relief itu seakan ditenggelamkan oleh zaman yang menjadikannya aus. Manusia-manusia kangkang yang terpahat di badan silinder atas tak terlihat lagi. Relief pada ujung besar tak lagi terlihat wujudnya bahwa relief tersebut menggambarkan kepala manusia, melainkan hanya sebuah bulatan berdiameter sekitar 15 cm.

Selain itu, lubang bujursangkar yang diapit relief manusia kangkang saat ini tak lagi berfungsi sebagai tempat penumbuk padi. Beberapa tahun silam, lubang berdiameter 20 cm itu pernah berfungsi sebagai tempat penumbuk padi yang digunakan oleh penduduk Dusun Tuo. Warga menumbuk padi di lubang itu ketika musim panen tiba dan saat itu belum ada mesin penumbuk padi.

Yang lebih menyedihkan lagi dari kondisi peninggalan bersejarah zaman Megalitikum ini adalah banyaknya pahatan-pahatan baru dari manusia-manusia modern yang belum mengerti pentingnya pelestarian peninggalan sejarah bagi kehidupan mereka. Salah satu pahatan bertuliskan huruf Latin ‘Cik Dang’ tertoreh di sana. Beberapa pahatan kecil lain yang bertuliskan nama-nama pasangan muda-mudi yang (mungkin) dulu sedang memadu kasih di atas Batu Larung situs Dusun Tuo itu menjadi sebuah relief baru. Batu itu kini seolah tak lagi menunjukkan peninggalan megalit melainkan menjadi sebuah ‘prasasti cinta’ baru manusia modern yang pernah memadu kasih di atas benda bersejarah itu.

Tidak ada komentar: