Kamis, 06 Maret 2008

"Pelajaran Mengarang" dalam Sebuah "Rumah Singgah" di Kotaku


Cerpen "Pelajaran Mengarang" karya Seno Gumira Ajidarma adalah sisi lain dari kehidupan seorang anak penjaja seks. Tak ada yang menginginkan dilahirkan di tempat yang penuh dengan kenikmatan itu. Kisah ini menyusun kembali klise-klise memori otaku ketika aku mengenal suatu kompleks kumuh yang dihuni oleh penjaja seks di kotaku. Bukan suatu kompleks elite layaknya Sarkem yang ada di Yogyakarta dengan beberapa pembagian kelas (katanya, entahlah...). Itu hanya sebuah rumah singgah yang terbuat dari kumpulan-kumpulan papan kayu yang tersusun rapi.

Jikalau aku mau, aku pun dapat melihat para penikmat itu dari ujung jalan di kala mereka bercumbu ria, karena penutup kegiatan mereka hanya sehelai kain yang diselipkan diantara sela-sela kayu yang disandarkan pada paku. Selama hampir 8 tahun melewati tempat itu, tak ada perubahan yang pasti. Orang-orangnya pun masih sama, mungkin sangat mengenal sosokku, karena mereka terkadang merelakan senyumnya untukku. Aku juga mengenal dua anak yang dilahirkan di tempat itu, tanpa tahu siapa ayah mereka. Kakak beradik itu kukenal dengan baik, meski tak terlalu dekat. Takdir yang mungkin tak dikehendaki mereka. Sang kakak memutuskan menjadi penari telanjang dan seorang homoseksual. Ia telah mentasbihkan hubungannya dengan seorang pria di kota metropolitan ini. Hingga akhirnya, ia kembali ke kotaku dengan menyandang borok di sekujur tubuhnya, mungkin itu semacam penyakit kelamin, aku tak tau. Ia lelaki hitam manis yang selalu menyebut namaku dengan manis pula, putri... Tak jauh beda dengan sang kakak, si adik yang bertubuh perempuan itu, tak kuasa menolak takdirnya sebagai seorang penjual jagung bakar. Ia melakukan free sex dengan seorang lulusan pondok pesantren dan setiap ku melihatnya, aku hanya bisa meringis, pilu... Tak ada yang menginginkan lahir dari rahim yang dimasuki seribu kelamin lelaki. Sisi lain dari tempat itu adalah jagung bakar. Jagung bakar merupakan nafkah para mantan penjaja seks yang ada di sana untuk meneruskan hidupnya. Adapun yang tetap bertahan dengan pekerjaan awalnya, mereka sehari hanya memperoleh uang sekedarnya. Lima ribu perak untuk sekali main, menyedihkan... Hari ini, tiba-tiba aku tertarik dengan nama Seno Gumira Ajidarma dan hatiku terpana pada satu judul cerpen itu dan aku membacanya... Perlahan-lahan dan aku teringat dengan kompleks yang penuh dengan ceceran air mani itu.

Tidak ada komentar: