Senin, 07 Januari 2008

Jakartaku bikin melek!

Tak terbayangkan terdampar di Jakarta sebagai KRONIKUS. Profesi yang belum tentu tercantum dalam menu job/occupation, namun membuatku nyaman, karena sesuai dengan jurusan yang tertulis dalam ijasahku, ILMU SEJARAH. Jurusan yang dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat yang berstruktur kepulauan ini. Bahkan, salah satu temanku ada yang berkata: "Kenapa harus ambil SEJARAH?" Tragis!

Tak Apalah, hanya mereka yang bersahajalah yang mau menghargai sejarah.
Dari beberapa kronik yang kutulis, tak hanya satu hal saja yang bikin penasaran, mulai dari istilah Bahasa Belanda hingga asal-usul kota Jakarta. Yang terakhir itu membuat mataku rada melek, karena aku menemukan sebuah buku yang berjudul Jakarta Tempo Doeloe. Sebenarnya buku milik Pak TR yang membahas tentang Jakarta tidak cuma buku itu, tapi hanya buku inilah yang mampu menghipnotis mataku untuk memabacanya. Buku yang bersampul merah itu, isinya sangat ringkas, menyenangkan buatku, karena semakin membuat penasaran, selain itu banyak gambarnya. Seperti anak kecil saja, menyukai buku yang banyak bergambar...
Dari buku itu, aku tahu wilayah Weltevreden yang nama awalnya Lapangan Paviljon, kemudian dibeli oleh Gubernur Jenderal Mossel (1750-1761). Weltevreden hampir menguasai wilayah Jakarta Pusat saat ini, sebab tuan Gubjen itu mendirikan sebuah rumah yang membentang dari rumah sakit Gatot Soebroto hingga Senen.
Dan... yang sangat membahagiakan adalah aku menemukan kisah Pasar Gambir yang selama ini 'misterius' karena selalu menghiasi kronikku dan Mbak Hajar. Pasar Gambir merupakan pasar malam sebagai salah satu wujud penghormatan terhadap kelahiran Ratu Willhelmina (Ratu Belanda kala itu), pada tanggal 31 Agustus. Pasar itu diselenggarakan setiap tahun dimulai dari tahun 1906, namun tidak intensif, salah satu contohnya tahun 1910 pasar itu tidak diadakan karena Betawi terkena wabah kolera. Pada awalnya pasar itu diselenggarakan selama 1 minggu, kemudian pada tahun 1921, diperpanjang durasinya menjadi 2 minggu. Model bangunannya selalu berganti menyesuaikan dengan tema rumah adat yang ditentukan oleh panitia di tahun penyelenggaraan. Pasar itu membentang di lapangan Gambir, yang saat ini dihuni oleh si Kepala Emas itu. Hal yang menarik bukan? Setiap daerah memiliki ciri khas pasar malam. Ide bagus untuk penelitian khusus perihal pasar malam di Indonesia!
Satu hal lagi yang menarik dari buku ini, yakni pembunuhan seorang Indo Pelacur (Fiantje) pada tanggal 17 Mei 1912 hingga mengakibatkan si otak pembunuhan itu meti mengenaskan, bunuh diri. Di sinilah letak kehebatan salah satu pegawai Landraad pemerintah kolonial Belanda yang bernama Tuan Ruempol. Ia tidak memiliki keberpihakan terhadap pribumi maupun bangsa Eropa. Meneer Brinkman yang menjadi tersangka pembunuh Fientje, seorang anggota sositet Concordia, yang saat ini menjadi Gedung Harmoni, sedangkan saksi pembunuhan itu seorang pribumi bernama Raonah. Sang Komisaris Kepala ternyata mengakui pernyataan si pribumi itu dibandingkan kesaksian dari si Tuan besar. Cukup adil buat persidangan di zaman deskriminasi rasial itu. Perihal pembunuhan pelacur indo ini, kata Mbak Roma, di dalam salah satu novel karya Pramoedya Ananta Toer dikisahkan pula. Ah.... Kakek Pram, imajinasimu setinggi langit, terlalu sulit merangkai puzzle-puzzle yang berserakan di dalam koran-koran lama dan membentuk sebuah 'scriptamanent' yang mendunia!


Tidak ada komentar: