Kamis, 18 April 2013

Hanya Orang Bodoh yang (Tak) Abaikan Status Facebook


Apa Anda pernah muak, sebel dan bosan setelah membaca status-status teman-teman Anda? Dan status-status itu tak akan pernah hilang kecuali jika Anda meremove akun teman itu. Sangat menyebalkan dan membuat gatal jari kamu bukan?

Aku sering, makanya beberapa kawan tak dikenal tidak kuterima perkawanannya, bahkan muridku sendiri. Itu karena aku tahu mereka kebanyakan berstatus alay. Bukan karena tak mau berkawan tapi status-status itu pasti tampil di wall dan tak mungkin tak terbaca. Untuk menghindarinya, pembatasan kawan sangat diperlukan. Selain itu, untuk menghindari gosip-gosip yang beredar akibat status-statusku yang terkadang berupa curhatan.

Aku mengenal facebook sekitar tahun 2007 (sebelumnya pengguna friendster) dan baru punya akun tahun 2009 karena merasa kesepian serta jauh dari informasi-informasi yang bisa mengupgrade pemikiranku. Hidup jauh dari teknologi sangat menyakitkan di kala semua teman tertinggal di Jawa dan aku hanya berdua dengan suamiku, berkelana di wilayah yang seumur hidupku baru kuinjjakkan pertama kalinya waktu itu. Aku sangat tertolong dengan facebook dan membeli laptop dengan harga relatif mahal di saat benda itu belum booming di sini adalah suatu pilihan yang menurutku tepat. Di saat warnet dapat dihitung dengan jari hingga tak terhitung lagi.

Salah satu akun yang kuikuti waktu itu dan sangat membantu mengakses informasi paling cepat tanpa harus banyak memilah adalah akun mas Andreas Harsono. Dan saat ia meremove perkawanan denganku, aku pun bertanya-tanya. Tanya itu pun terjawab saat aku bertemu dengannya di suatu kelas narasi. Aku merasa beruntung bertemu dengannya. Aku juga menemukan banyak sekali kawan-kawan sekolahku yang sudah lama tak bersua. Itu adalah pelepas rindu di saat kesepian melanda.

Makin lama makin banyak yang meminta perkawanan, bahkan sampai sekarang aku masih belum menerima perkawanan sekitar ratusan orang. Ini kulakukan bukan karena aku orangnya tertutup, aku yang dulu (waktu sekolah) dengan aku yang sekarang sangat berbeda. Itu lebih karena keamanan. Ada untung-ruginya berkawan dengan banyak orang dan aku banyak belajar dari mereka, termasuk soal (tak) mengabaikan status orang.

Acapkali aku sebal dan muak dengan status-status yang menurutku tak penting, lebih-lebih ada yang terang-terangan buka aib. Tapi aku banyak belajar dari kawan-kawan facebook yang tak mengenalku dengan baik dan sering mengabaikan status-statusku. Diam itu emas, lebih bijak untuk status-status alay yang berisi curhatan atau tentang prinsip-prinsip yang tak sependapat. Itu sebuah penghormatan sehingga si empunya akun tak tersinggung, marah atau geram. Jika tangan kita gatal juga untuk mendebat sebuah status, alangkah baiknya memilah kata-kata yang meminimalisir si kawan maya itu tersinggung. Ini bukan berarti aku tak pernah sekalipun menyinggung hati pemilik akun. Aku pun selalu berani meminta maaf dan lebih bersikap damai, jika aku telah menyinggung mereka. Dengan interaksi ini, terlihatlah kawan-kawan yang seide, sependapat, sepandangan dengan kita serta yang tidak.

Tulisan ini sudah lama ingin kubuat saat seorang kakak yang sudah kuanggap seperti saudara menyapaku lewat inbox untuk tidak mengumbar aib keluargaku. Aku ingin menjelaskan bahwa bersikaplah seolah kita berada di kondisi itu dan memberikan masukan yang mampu menyemangati, bukan sebuah kritik yang menyinggung hati dan membuat makin terpuruk. Kita terkadang tidak bisa menyimpulkan sesuatu dengan benar sesuai kondidi berdasarkan status yang hanya sepotong-sepotong.

Kali ini, tulisan itu tak akan kutunda lagi setelah seorang kawan yang memberikan masukan dan menyatakan kebosanannya membaca status-statusku tentang keluhan UN dan menganggapku tak berbuat sesuatu. Itu yang aku pahami dari komentarnya. Kata ‘BOSAN’ sangat mengusikku sehingga aku membuat status yang terkesan aku bukan tipe orang terbuka dengan kritikan. Setelah aku kritik balik di inbox dia pun tak berusaha instropeksi diri, malah membuat status lainnya. Kalo sudah begitu, ajian ‘Diam adalah Emas’ lebih baik dikeluarkan. Jangan berpikir, tulisan ini khusus untuk kawan mayaku itu. ANDA SALAH BESAR! Ia hanya pemantik keinginan yang sudah lama ingin kutuliskan.

Ini adalah sebuah instropeksi diriku dalam menyikapi status-status facebook. Aku dapat menyimpulkan bahwa mengabaikan status-status yang tak kusukai adalah sikap yang lebih baik untuk menghindari kesalahpahaman, perpecahan atau apapun akibat sesuatu yang sebenarnya tak penting. 
Akan sangat BODOH jika aku TAK MENGABAIKANNYA dan mengikuti permainan egoisme pribadi. Sebaliknya akan sangat BODOH jika aku MENGABAIKAN status-status yang mengandung informasi penting dan berhenti mengungkapkan unek-unek gara-gara komen, kritik dan masukan yang terkadang bikin kita down, apalagi sampai meremove orang tersebut. Duh, terdengar busuk sekali aku punya hati. 
Alhamdulillah, aku tak pernah meremove akun seseorang setelah terjadi ketegangan di walls facebook. Tetapi itu bukan berarti aku tak pernah meremove akun seseorang gara-gara statusnya. Kalau tidak salah dua kali, itu karena statusnya sering berisi makian dan satunya berupa status-status porno. Aku tak pernah mendebat mereka dengan komen-komenku. Kebetulan aku tak mengenal keduanya dengan baik. Aku tak menyukai status-status mereka meskipun aku bukan orang yang suci. Makian dan kepornoan cukup untuk konsumsi pribadi.

Aku jadi ingin tahu, apa sebenarnya maksud Mark membuat social media FACEBOOK? Apakah dia membayangkan bakalan ada permasalahan-permasalahan seperti ini?

Aku sendiri merasa terhibur dengan berselancar di media ini dan menjadi obat lumayan mujarab ketika orang-orang sekelilingku tak mau mendengarkanku. Menulis buku harian sudah tak memungkinkan karena facebook lebih praktis dengan hanya membuka handphone dan menuliskan beberapa kata ketika aku di mana saja. Lalu menunggu komen-komen kawan yang diharapkan menghibur. Kalaupun tak ada komen pun tak masalah, tujuanku tak semata-mata menarik simpati. Mengungkapkan unek-unek sesuatu yang sangat melegakan, hanya saja perkembangan selanjutnya tak semua orang mau menerima unek-unek kita (sama dengan di dunia nyata, tak semua orang mau mendengarkan kita). Karenanya, aku rasa tulisan ini sangat perlu, minimal untuk diriku pribadi. Semoga perenungan ini bisa menjadi pelajaran bagi yang lain.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Youtube Channel is becoming one of the most important youtube channels
Youtube Channel is becoming one of the most important youtube channels. YouTube Channel has become one of the most important youtube channels. Rating: free youtube to mp3 0 · ‎2,038 votes