Minggu, 03 Mei 2015

Belajar Mengajar

Guru bukanlah cita-citaku dari kecil. Sewaktu kecil, sering bermain 'guru dan murid' dengan adik bungsu dan seorang tetanggaku. Aku gurunya dan mereka berdua muridnya. Meski begitu, tak pernah sekalipun tertarik menjadi guru, selain guru TK dengan alasan anak-anak TK itu lucu dan jika kita hendak marah pasti tak tega. Profesi guru TK pun akhirnya pernah kujalani meski hanya sebentar sebagai pengisi waktu saja. Itu pun tak benar-benar menjadi guru sebab posisiku hanya sebagai pendamping guru, tetapi sedikit banyak aku memahami karakteristik anak-anak TK. Digelayuti anak TK adalah hal yang paling menyenangkan.

Setahun kemudian, aku pun benar-benar menggeluti profesi guru. Tahun 2010, aku diterima menjadi guru sejarah SMA, posisi yang paling aku hindari dari lima jenjang sekolah. Jenjang inilah yang paling kuanggap sulit, sebab menghadapi manusia-manusia supergalau yang sudah mampu berpikir namun belum dapat memilah yang terbaik untuknya bukan perkara mudah. Kini, aku menapaki tahun keenam sebagai seorang guru. Sungguh tak menyangka bahwa aku akan mencapai titik ini dengan segala hal yang telah kuraih dan kujalani. Tentu saja, ini sesuatu yang luar biasa buatku pribadi yang tidak memiliki cita-cita menjadi seorang guru. Aku membagi 35 tahun masa kerjaku menjadi empat tahap: (1) Penjajakan; (2) Pendewasaan; (3) Pencapaian; dan (4) Pensiun.

Tahap pertama sudah kulalui dengan lumayan sukses. Lima tahun pertama bagiku cukup untuk menjajaki keseriusan sekaligus keterlanjuranku dalam berkecimpung di dunia pendidikan. Ternyata, aku mau berkomitmen dengan profesi ini meski masih bayak hal-hal yang kubenci, salah satunya membuat Perangkat Pembelajaran. Selama ini, aku menjadi guru yang malas membuat Perangkat Pembelajaran. Bukan karena tidak bisa, lebih kepada rasa malas dan idealisme. Semester pertama menjadi guru lebih banyak mengajar pelajaran Sosiologi dan tak ada RPP atau lainnya. Lalu, aku pun mengajar bukan berdasarkan Silabus tetapi bab-bab materi dalam buku pelajaran. Saat mengikuti perkuliahan Akta IV (Akta Mengajar), aku tak memahami benar mengenai Perangkat Pembelajaran yang diantaranya terdiri dari Silabus dan RPP. Latar belakang kuliah di program studi Ilmu Sejarah (bukan Pendidikan Sejarah) membuat saya benar-benar buta dengan Perangkat Pembelajaran. Teman-teman guru waktu itu juga sangat percaya denganku, jadi jika tak bertanya maka tak ada masalah, eh, tahu-tahu kesalahan fatal telah kulakukan. Semester kedua tak terjadi lagi, tetapi masih meraba-raba seperti si Buta yang mencari Gua Hantu.

Selanjutnya, aku pindah ke sekolah yang lebih dekat dengan rumah. Sekolah yang letaknya di tengah kota tetapi siswanya banyak dari desa. Bulan ini, tepat aku empat tahun di sekolah itu. Banyak pelajaran yang kudapat dari sekolah lama maupun baru. Sekolah lama yang berada di kota kecamatan kecil, tipe siswanya tak suka diberi nasehat panjang lebar, berbanding terbalik dengan sekolahku saat ini. Tahun pertama, aku mencoba tak memberi jarak dengan siswa-siswaku dan apa yang terjadi, seringkali kedekatan itu disalahgunakan. Beberapa persoalan yang terjadi di sekolah diselesaikan di rumah. Aku pun mengubah diri dengan metode separuh-separuh, separuh diri mendekat dan separuhnya lagi menjauh. Bahasa mudahnya, memberi jarak dan itu berhasil, nyaris tak ada urusan sekolah yang diselesaikan di rumah. Menurutku itu cara terbaik dan ternyaman buatku saat ini. Tak masalah tidak terlalu dekat dengan siswa sebab aku butuh privasi yang seringkali terganggu oleh masalah-masalah siswa. Jika aku guru Bimbingan Konseling mungkin akan berbeda kisahnya.

Aku menjadi guru yang tegas, menjunjung kejujuran dan terkadang kejam. Hal terakhir sedang perlahan-lahan kuhilangkan pada tahap Pendewasaan di tahun keenam ini. Pernah suatu kali, aku secara reflek memukul muka seorang siswa dengan buku saat ketahuan mencontek pada remedial hapalan. Detik ini perasaan menyesal itu masih kurasakan, tak bisa diubah dan tetap abadi meskipun setelahnya kami saling memaafkan. Aku sangat antikekerasan tetapi tiga kali aku melakukan kekerasan pada murid (kedua dan ketiga tak perlu kusebutkan). Tiga kali melakukan kekerasan selama tiga tahun dan tahun ini aku tak mengulanginya. Semoga bisa seperti itu terus untuk tahun-tahun berikutnya hingga aku pensiun. Kekerasanku bukanlah suatu kesengajaan tetapi gerakan spontan akibat emosi yang tak terkendali. Trik yang kuperoleh untuk mengatasi hal tersebut dan sangat efektif ada dua: (1) Walk out yakni keluar dari kelas dan tidak kembali hingga emosi mereda; (2) Menyuruh siswa yang bermasalah keluar dengan diberi tugas.

Aku sadar bukan guru yang sempurna, karenanya terus belajar, belajar, belajar dan memperbaiki diri. Salah satu cara memperbaiki diri melalui siswa ialah dengan menyuruh mereka menuliskan kritik dan saran selama proses pembelajaran. Cara ini lumayan efektif dan menghibur. Kalau dikumpulkan sudah ribuan kertas berisi kritik membangun itu. Sederhana, tetapi membuatku semakin terpacu menjadi guru yang lebih baik.

RPP dan tetek bengeknya adalah pekerjaan yang paling tak kusukai selama menjadi guru. Selama lima tahun menjadi guru, perangkat mengajarku tak pernah selesai. Selain malas karena harus membuat lima bundel Perangkat Pembelajaran (X, XI IPA, XI IPS, XII IPA dan XII IPS), kadang idealisme muncul yang membuatnya semakin parah. Bukan semakin baik tetapi semakin parah. Aku banyak berkutat di RPP dengan metode-metode pembelajaran yang kusesuaikan dan kutemukan seiring proses belajarku selama 5 tahun ke belakang. Beberapa buku terkait dengan metode dan model pembelajaran sudah menjadi koleksiku, tetapi saat penerapan sering kali tak berhasil. Karakteristik siswa-siswa dan keahlianku sering berbenturan yang membuat pembelajaran semakin monoton. Kendala media pembelajaran juga memperparah, sebab seringkali berebut infocus (proyektor) dengan guru lain, sedangkan aku belum mampu membelinya sendiri. Akhirnya ide-ide mengenai model pembelajaran yang membuat aku dan siswa bisa nyaman dalam belajar hanya tertulis sebagian. Aku mendambakan setiap jenjang memiliki model-model pembelajaran yang sedikit berbeda dengan menyesuaikan materi.

Aku sudah menerapkan tugas siswa yang menurutku sangat sesuai dengan karakteristik siswaku, diantaranya sebagai berikut:
  • Mengidentifikasi peristiwa dengan menggunakan tabel untuk materi-materi yang pokok bahasannya panjang tetapi waktu pembahasannya singkat, seperti materi: Peradaban Kuno di Dunia, Pergerakan Nasional, Kabinet Parlementer, Perang Kemerdekaan, dan Pergolakan Dalam Negeri. Siswaku sangat sulit diajak membaca dan lebih suka disuapi jadi aku harus mencari cara lain supaya mereka mau membaca. Mereka dan sekolah juga tak memiliki literatur (internet juga terbatas) yang cukup untuk kebutuhan belajar jadi model ini cukup membantu.
  • Permainan kartu dan amplop (dalam buku diistilahkan Make-A Match) untuk variasi pembelajaran. Siswa sangat senang, apalagi dengan poin-poin nilai tambahan jika mereka berhasil menjawab. Permainan ini juga pernah kuterapkan untuk Ulangan Harian dan cukup sukses.
  • Mengunjungi Candi Muara Jambi untuk memperkenalkan candi terluas di Asia Tenggara. Biarpun jaraknya hanya 2 jam dari kota kami, terkadang siswaku masih banyak yang belum menginjakkan kaki mereka ke sana. Aku berharap suatu saat mereka bisa mempromosikannya hingga ke luar negeri. Aku juga menambahkan materi khusus mengenai Kerajaan Melayu Jambi yang masih samar-samar di sela-sela materi Kerajaan-Kerajaan Hindu-Buddha dan Islam di Indonesia. Aku menyusun materinya sendiri, jika mengandalkan buku maupun pemerintah daerah, entah abad berapa baru terlaksana.
  • Belajar Bahasa Belanda Dasar dengan lagu pemantik Geef Mij Maar Nasi Goreng khusus materi Kelas XI untuk Masa Peralihan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda ke Pemerintah Jepang. Pelajaran ini juga untuk memperkenalkan cara membaca kata-kata Bahasa Belanda yang sering dijumpai dalam buku maupun LKS. Hanya dasarnya saja dan aku pun tak fasih Bahasa Belanda. Kebetulan sewaktu kuliah sempat mempelajarinya.
  • Menggambar peta dan jalur untuk materi Persebaran Nenek Moyang Bagsa Indonesia (Kelas X) dan Penjelajahan Samudera (Kelas XI). Siswaku sangat awam pengetahuannya mengenai peta, jadi aku harus membiasakan mereka dengan peta, lalu ditambah dengan mengidentifikasi jalur-jalur berdasarkan materi. Proses menggambar dan identifikasi sangat membantu siswa memahami materi. Jika siswa-siswaku pengetahuannya sekelas sekolah internasional di Jakarta, tak perlu capek-capek melewati proses ini.
  • Mempraktekkan pemilu untuk materi Pemilu 1955 dengan memberi mereka tugas mencari gambar Kertas Suara Pemilu 1955 dan membentuk panitia sekelas 1 TPS.
  • Tugas untuk mencari gambar-gambar peninggalan zaman batu dan logam (Kelas X), serta gambar-gambar tokoh Pergerakan Nasional (Kelas XI). Mereka harus menempel gambar itu di buku catatannya dan mengidentifikasi nama serta organisasi pergerakan yang menaunginya. Itu sangat efektif di saat aku tak sanggup menghadirkan infocus dalam setiap pertemuan, serta memberikan memori yang kuat di otak siswa ketika proses menempel dan mengidentifikasi.
Rencananya, beberapa perteuan terakhir, aku akan mengajak siswa untuk menuliskan, minimal namanya, dengan Huruf Hieroglyph sebagai bentuk variasi proses pemebelajaran. Baru seujung kuku model-model pembelajaran yang kusesuaikan dengan siswaku, meski begitu itu adalah proses penting bagian dari kehidupanku sebagai seorang guru. Prinsipku, jangan memaksakan siswa untuk mengikuti keinginan kita dalam belajar, melainkan mengikuti kemampuan pengetahuan sekaligus materi (ekonomi orang tua) sebab yang ada hanya kegagalan. Misalnya, ketika aku mempraktekkan model pembelajaran Jigsaw. Mereka kebingungan setengah mati karena pertukaran-pertukaran materi dan tidak bisa memahami materi dengan baik. Lalu aku memodifikasi model pembelajaran Jigsaw ini dengan model tabel yang kusebutkan di atas. Saat mereka kuajak nonton film dengan durasi 2 jam, ternyata tak berhasil sebab tak semua siswa suka menonton film. Menonton film saja tak suka apalagi diajak menganalisis film. Jika menonton film itu dijadikan PR pun tak semuanya memiliki fasilitas laptop atau DVD player. Siswa-siswaku sebagian besar jika sudah sampai di rumah tak memikirkan sekolah lagi. Mereka senang ke sekolah karena bertemu teman-temannya, bukan karena pelajarannya apalagi gurunya. Jadi, menurutku membuat sekolah seperti taman yang dicita-citakan Ki Hajar Dewantara itu masih sangat jauh. PR besar buatku pribadi.

Ciri khas yang kumiliki saat melakukan Ulangan Harian ialah TIDAK BOLEH MENCONTEK DAN JIKA KETAHUAN MAKA AKAN DIKELUARKAN KEMUDIAN ULANGAN SUSULAN. Seperti aku tak pernah mencontek sewaktu menjadi siswa maupun mahasiswa. Bukan perkara itu yang akan aku tekankan, melainkan perkara mental anak negeri ini sebagai penerus masa depan. Mental bangsa ini sudah sangat bobrok, terutama untuk persoalan kejujuran. Kejujuran merupakan sifat dasar manusia untuk melakukan kebaikan. Jika manusia mempertahankan sifat dasar itu, maka perbuatannya dapat dipertanggung jawabkan baik di hadapan manusia maupun Tuhan. Bukankah Nabi Muhammad SAW dikenal dengan kejujurannya? mengapa masyarakat yang konon kabarnya memiliki manusia-manusia Muslim terbesar di dunia tak bisa mencontoh nabinya? Sungguh ironis bukan? Wajar saja negeri ini tak putus dirundung malang.

ORANG BAIK ITU JUMLAHNYA BANYAK, ORANG JUJUR ITU YANG LANGKA. Kata-kata itulah yang akhir-akhir ini aku dengungkan kepada siswa-siswaku. Memang tak ada manusia yang jujur 100% tetapi meminimalisir berbohong itu jauh lebih baik. Nilai itu nomor kesekian buatku, aku tak pelit dengan nilai, tetapi etika itu nomor satu. Selain itu, dengan metode kejujuran ini aku benar-benar menemukan siswa yang mampu dan memiliki kemampuan analisis di bidang sejarah. Sejarah tak sekedar menghapal melainkan ada kemampuan menganalisis sebuah peristiwa. Saat menerapkan Kurikulum 2013, aku membuat soal-soal analisis yang penuh dengan bacaan, bukan soal yang penuh dengan hapalan. Biarpun tak semua siswaku mampu tetapi dengan pembiasaan, maka siswa itu akan terlatih berpikir kritis dengan sendirinya selama 3 tahun belajar sejarah bersamaku. Aku juga tak mengajari siswa-siswaku berkata-kata kotor dan kasar di kelas, itu larangan keras di kelasku!

Pada tahap Pendewasaan yang sedang kulalui, aku akan lebih memantapkan kemampuanku dalam mengajar. Menumpuk buku-buku sejarah adalah tujuan yang harus kucapai dalam tahap ini. Memberi pengetahuan-pengetahuan di luar yang tertulis dalam buku pelajaran merupakan kekuatan yang harus kumiliki. Aku sadar sesadarnya, bukan manusia yang memiliki kecerdasan tinggi jadi harus selalu meningkatkan kemampuan. Jika ada yang bertanya: Mbak, bagaimana menjadi guru sejarah? Aku tak bisa menjawab sebab aku tak memiliki latar belakang pendidikan guru dan pengalamanku itu yang menjadi guruku. Jika aku memberikan jawaban maka kesannya akan sangat menggurui, lebih baik mari belajar mengajar bersama. Aku adalah guru yang jauh dari sempurna, tetapi aku selalu berusaha mencapai kesempurnaan. Bisa melakukan pengabdian selama masa kerjaku merupakan suatu pencapaian. Siapa mau belajar mengajar bersamaku?

Tidak ada komentar: