Kamis, 02 Agustus 2012

Stressifikasi: Sedikit tentang UKG (Uji Kompetensi Guru)

Gara-gara UKG (Uji Kompetensi Guru), guru bukannya disertifikasi tetapi distressifikasi. Bahkan di dalam surat kabar diberitakan bahwa ada guru yang meninggal akibat UKG. Banyak yang takut kehilangan duit jutaan yang sebenarnya lebih tepat sebagai dana untuk kesejahteraan guru dibandingkan profesionalitas guru (maaf, banyak mereka yang sudah sertifikasi tetapi tak 'bersertifikat' profesional). Isu-isu banyak bertebaran, yang katanya hanya proyek belakalah, yang mempersulit gurulah. Bahkan aku berfikir, apa ini cara penghapusan dana sertifikasi karena SBY sebentar lagi mundur? Apa mungkin 2014 guru bisa disertifikasi semua? 2014 kan masa jabatan SBY berakhir. Ganti presiden ganti kebijakan. Makin hancur pendidikan negeri ini jika dipolitiki terus.


Terus terang, aku tak tertarik dengan sertifikasi model begitu, jadi beban saja dan tak bisa menikmati mengajar dan tetap berprestasi tanpa embel-embel apapun kecuali memajukan dunia pendidikan, meskipun aku tak munafik butuh dan mau dikasih duit. Beban 24 jam mengajar dengan situasi sekolah yang tak bisa menyedikan kuota 24 jam itu menyebabkan banyak guru rela mengajar di dua sekolah. Menurutku itu sangat tidak efektif dan menurunkan kualitas guru, sebab bukan perkara gampang bisa membagi waktu mengajar dengan kondisi yang selalu fresh secara jasmani maupun rohani. Jika beban kerja tidak terlalu banyak, misalkan seperti peraturan beban kerja bagi guru non-sertifikasi yaitu 18 jam, mereka bisa memaksimalkan waktu itu untuk mengajar dengan lebih baik. Profesional kan tidak hanya diukur dari jumlah jam saja tapi kualitas dan prestasi dari seorang guru. Buat apa jam mengajar banyak kalau cara mengajarnya masih amburadul.

Ini bukan berarti menyalahkan kebijakan pemerintah sepenuhnya. Moral guru juga sangat perlu dibenahi. Tak semudah mengatakannya memang. Aku yakin pemerintah cukup pusing mengatasi polah-tingkah guru yang jumlahnya ribuan. Dan sebagian besar moral buruk bangsa ini ialah pemalas. Aku pun sering terjangkit penyakit ini, makanya aku tak bernafsu untuk ikut sertifikasi atau naik pangkat cepat karena kinerjaku yang belum maksimal. Aku tak yakin kualitas guru di negeri ini semakin meningkat jika penyakit itu tak diberantas dari diri masing-masing individu guru. Tentunya guru itu yang membasminya, bukan pemerintah saja.

Baru-baru ini aku mengikuti bimbingan teknis (bintek) tentang penyusunan Karya Ilmiah. Ah, serasa-rasa tak melakukan bimbingan, karena tak ada ilmu baru yang bisa kupelajari dari Karya Ilmiah tetapi banyak ilmu di luar itu yang bisa kupelajari, khususnya tentang kondisi intelektual guru di Jambi. Setelah mengikuti bintek yang hanya 2 hari itu, timbul pertanyaan: Berapa persen guru yang sanggup menghasilkan Karya Ilmiah yang bermutu demi meningkatkan kualitas pendidikan dengan guru yang hanya membuat Karya Ilmiah sekedar formalitas untuk kenaikan pangkat saja? Aku yakin lebih banyak yang merujuk pada jalur yang kedua. Maaf, melihat kualitas penilai Karya Ilmiah dari LPMP Jambi saja kurang mumpuni, bagaimana mau membimbing guru-guru dalam menyusun Karya Ilmiah? Seharusnya mereka menyampaikan bahwa Karya Ilmiah tak hanya sekedar untuk kenaikan pangkat melainkan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Cara penyampaiannya tentang hal itu saja sudah tidak tepat. Aku benar-benar meragukannnya.

Entah di mana letak kesalahan awalnya dalam dunia pendidikan kita, yang jelas pandangan guru atau tentang guru dari zaman ke zaman telah berubah.

Kembali ke soal UKG, bener kata temanku, harusnya profesional dulu baru disertifikasi bukan sertifikasi baru diprofesinalkan. Hanya guru-guru yang benar-benar profesional yang berhak mendapatkan dana sertifikasi. Mereka itulah yang sudah dinilai tangguh dari segi jasmani maupun rohani, sehingga ketika ada kebijakan-kebijakan baru tak perlu repot seperti sekarang ini.

Ya, ini hanya idealismeku, realnya entahlah. Sebuah idealisme itu penting supaya kita berada pada jalur yang benar, meskipun idealisme bukanlah segalanya. Kita manusia pasti akan menemui hal yang melenceng jauh dari idealisme sehingga menjadikannya sedikit berpaling. Aku selalu ingat kata-kata temanku yang selalu mengataiku sebagai seorang yang idealis, padahal aku merasa tak seperti itu. Ada banyak orang-orang yang lebih idealis dariku, bahkan rela kehilangan nyawa demi mempertahankan idealismenya. Jauh berbeda denganku, aku masih sayang nyawaku, pekerjaanku dan tentu saja keluargaku, jadi terkadang idealisme itu pudar seiring dengan tuntutan situasi yang memojokkan tiga hal tersebut. Hmm... Orang berpendapat kan boleh-boleh saja.

Tidak ada komentar: